“Kakek” pun berpulang

Oh 2016, sulit sekali rasanya menerima tahun ini dengan dua kali kehilangan keluarga tercinta. Agustus 2016 ini saya ditinggal oleh orang yang paling saya cintai, mamah. Betapa sedihnya pula 29 Desember 2016 menjadi hari terakhir sang “kakek”, Pak Eni kami memanggilnya. Kenapa saya pakai tanda petik? Karena sebetulnya beliau bukan kakek kandung dari mamah. Beliau hanya kakek tiri yang menggantikan peran kakek kandung dari mamah yang tidak pernah saya kenal sepanjang hidup ini. Kamis sore itu info datang dari uwa di Ciamis, mengabarkan kalau Pak Eni meninggal. Lebaran ini menjadi lebaran terakhir keluarga dengan mamah dan Pak Eni, alhamdulillah sempat bertemu beliau walau keadaannya sebenarnya sudah cukup sakit.

Dari beliau saya mengalami banyak hal, beliau lah yang berperan banyak sebagai kakek di keluarga kami karena kakek dari papah sudah lebih dulu berpulang dan sebelumnya sudah terserah stroke yang cukup lama sehingga nyaris saya sendiri tidak mengenal beliau dari kecil. Pak Eni lah yang meskipun bukan kakek kandung selalu mengajak kami berpetualang di belantara hutan-hutan ciamis, mencari ikan di kolam-kolamnya, berpetualang menjadi anak desa dengan menghabiskan waktu di sungai tempat kita berenang. Beliau lah yang memasang beton-beton rumah keluarga kami di Garut yang selalu kita panggil “tembok Bapak Eni”, saking kuat dan kokoh nya dinding-dinding dan beton di rumah itu hasil karya beliau.

Innalillahi wa innailaihi rojiun ..

Kini hanya tinggal kenangan-kenangan keluarga Ciamis, mimih (nenek), mamah, dan Pak Eni di rumah sederhana namun luas itu yang selalu membayangi kami menghabiskan masa kecil yang luar biasa indah nya. Semoga mereka mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, semoga mereka mendapatkan kelapangan kubur, semoga semua amal ibadahnya diterima Allah SWT, semoga mereka dan kami ditempatkan di surga Allah SWT kelak dengan bahagia. Aamiin.

Ummi

Suatu saat saya pasti kehilangan salah satu atau bahkan kedua orang tua, tapi tidak secepat ini. Ya, saya selalu merasa kehilangan ini terlalu cepat, meskipun di luar sana banyak orang yang tidak mendapatkan special privilege untuk merasakan kasih sayang seorang ibu. Seorang manusia biasa yang menjadi sangat luar biasa karena kasih sayang nya, waktunya, doanya, yang hanya selalu didedikasikan untuk keluarganya, terutama untuk anak-anaknya.

Singkatnya, beliau memang punya penyakit gula darah yang sudah lama sekali diderita. Terakhir sampai jantung yang akhirnya menjadi akhir perjalanan melawan penyakit ini. Beliau terlalu lama menahan penyakit yang sebenarnya kalau ditanyakan langsung pasti dijawab dengan tidak merasakan apa-apa. Teu pararuguh alias gak jelas. Tapi apa mau dikata dan dirasa, pertama kali kena lambung sampai THT yang berujung semakin lama suara nya semakin hilang, mulai ke pernafasan, pencernaan, dan terakhir jantung. Kalau lihat obat-obat yang diminum sih sudah kena macem2 seperti ginjal dan hati. Semakin lama semakin complicated. Telah menjalani dua kali operasi bedah kaki karena bengkak tak sembuh-sembuh.

Dan berita itu pun akhirnya sampai pada tanggal 30 Agustus 2016. Saya hanya sempat bertemu seminggu sebelum beliau tutup usia. Pertama kali masuk rumah sakit tanggal 17 Agustus masuk CVCU, hanya 4 hari 2 malam saja sempat berjumpa, ngobrol ke sana ke mari, solat bareng, mencuci dan merapikan rambut nya sampai pada akhirnya harus ditinggal lagi ke perantauan. Mamah sendiri ternyata dibolehkan pulang ke rumah hari kamis. Karena jum’at sampai senin harus ke Malang untuk wisuda adik ipar, weekend itu tak sempat untuk pulang ke Garut. Selasa masih masuk kerja, dan kerena kondisi fisik sudah sangat lelah, semua orang di rumah termasuk mertua tak ada yang terbangun tengah malam saat puluhan telp masuk ke HP, waktu itu saya sendiri karena terbiasa terbangun jam 3, akhirnya ada telp dari adik. Jantung berdebar keras saat lihat nomor yang telp karena entah kenapa perasaan sudah pasti ada berita yang tak ingin didengar itu. Dilewatkan satu kali miss called, akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat dan …. that’s what I thought …. a very unpleasant bad news finnaly came to my ears.

Melayang rasanya .. Setelah sampai di Garut hanya bisa menyolatkan dan menguburkan. Melihat wajahnya yang terakhir, mengusap wajahnya yang diam dingin sunyi tapi terlihat damai dan bahagia, akhirnya tiba saat beliau menghadap Sang Pencipta nya, Allah SWT. Ketika saya masuk ke liang kubur, memasukan jenazah nya ke peristirahatan terakhir, dibuka ikatan kain kafannya, dipegang kepalanya, diberikan bantalan segumpal tanah, kepala itu lah yang memberikan ilmu kehidupan ke 3 anak nya dari kami masih belum bisa berucap apa-apa sampai menjadi manusia yang mandiri, pemberi semangat tinggi dengan kata-kata dan ucapan lembut serta lantunan doa nya yang terbisik setiap kami akan berangkat sekolah, kuliah, bekerja, kembali ke perantauan atau setiap selesai telepon. Terasa tangannya yang sudah terlipat erat terbungkus kain kafan, tangan yang dari hari pertama kali kami hadir ke dunia selalu mengusap, memandikan, memasak, memberi makan, menggendong, menyusui, mengobati setiap luka dan sakit kami, mendidik dan memberikan berbagai macam keterampilan, tangan yang selalu kami cium di saat setiap akan berpisah kembali, tangan yang akhirnya menjadi anggota badan terakhir yang saya rasakan dari beliau semasa hidupnya. Dibukalah ikatan kakinya untuk diberikan bantalan tanah lagi, kaki dingin yang telah kaku itu lah yang menjadi tumpuan kami ketika masih belum bisa apa-apa, menahan beratnya ke tiga badan kami ketika belum bisa berjalan, kaki yang dipakai untuk mengantar kami ke setiap jenjang kehidupan kami, kaki menuntun kami berjalan, mengantarkan untuk mencari ilmu sampai mengantarkan kami ke pelaminan, kaki yang di mana di sana terdapat surga yang dijanjikan Allah untuk setiap anak yang mendapatkan ridho nya. Dan selesailah perjalan beliau, tanah itu pun satu per satu menguburnya, meninggalkan jejak fisiknya yang terakhir, sepintas doa tersampaikan, semoga beliau dilapangkan alam kubur nya. Tak ada lagi suara lembut samar berbisik yang melantunkan doa kepada kami, tak ada lagi tangan lembut mengelus rambut kami saat akan merantau, tak ada lagi kaki yang akan mengantarkan kami ke fase kehidupan kami selanjutnya. Hanya tersisa amal ibadah yang semoga diterima Allah SWT, serta do’a kami yang tak akan pernah terlepas sampai akhir hayat, InshaAllah.

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

“Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.

Life of a new chapter

It’s been a year since my last post in this blog and my social media. I never realise that become a passive man in the internet world is very challenging somehow. What happen actually in last year is very special moment in my life, especially for my new role as a parent. In the early year fatherhood, everything was very hard. I had to make a lot of important decision, making my position in family higher because right after my daughter was born, I was no more just a son of my parents with bigger responsibility.

For everyone who has already been a father or parent will very understand about how hard being a parent is for the first time. They have to make a lot of adjustment of their daily life, including their behaviours, not only on the family life but also in the work file. Time is a very important and expensive thing for people who has a family. I might have spent much time in the office before I have a responsibility as a father, but right now, of course I should work very effectively with less of time consuming, work harder and smarter than before. Everything I’ve done, ultimately for my family as a number one priority, for now.

Eventually, with my decision on my time management, there are some moments I missed in the past year. But, I had lot of fun with my cute daughter and my little family. Well, I always feel like I’m still not a good parent, still have to improve my behaviours, teaching a lot of good things to my child as I teach my self to be a better man. It’s hard, starting my new chapter, but it really worth to try and try again. See you in the next chapter.

Love, life, and pray.

Mempersiapkan masa depan anak

Alhamdulillah, tepat pada tanggal 14 April 2015 telah lahir putri saya yang pertama dengan nama Naishabella Nurul Izzati, kita panggil Naya. Singkat cerita saya tidak bisa menemani istri melahirkan karena ketika kontraksi dan akhirnya melahirkan, saya masih di dalam perjalanan dari tangerang, meskipun demikian, alhamdulilah proses nya sangat dilancarkan sekali, tanpa cesar, tanpa induksi, istri sehat, anak sehat, keluarga senang.

Naya

Sebulan lebih ini meskipun jarang bertemu karena anak istri masih di Garut, dan hanya ketemu seminggu/dua minggu sekali tetap saja perasaan senang selalu terasa tiap waktu. Tetapi bukan hanya itu saja yang selalu terasa, mempunyai anak itu menjadi babak baru kehidupan di dunia ini. Tugas saya bertambah, ketika memutuskan untuk menikah, tentu saja saya niatkan untuk belajar menjadi pemimpin di organisasi kecil bernama keluarga. Sebelum memiliki anak, menjadi pemimpin bagi istri itu bukan perkara yang sederhana, sekarang ditambah anak tentu saja bertambah lagi object pembelajaran sebagai pemimpin dan panutan keluarga.

Akan seperti apa anak saya kelak? Harapan dan doa selalu saya ucap dan tertulis dalam post berikut, sekarang adalah action nyata nya. Masa depan seorang anak sangat ditentukan oleh kedua orang tuanya, akan seperti anak saya kelak pastinya bergantung kepada kebiasaan yang saya buat sejak sekarang ini. Tugas utama orang tua adalah mendidik kan? Sebelum sampai saat nanti anak kita siap untuk belajar mandiri tentang kehidupan dan memahami masa depan, pastinya tugas ini harus dibebankan kepada saya dan istri terlebih dahulu.

Pertanyaan nya, apakah saya bisa mendidik dan memberikan pelajaran yang bisa memuliakan saya sampai akhirat? Pagi ini saya dibuat merenung dengan sebuah broadcast whatsapp, mudah-mudahan menjadi pelajaran yang berarti untuk saya menyiapkan masa depan anak saya. Berikut message nya (maaf agak panjang) :

KISAH NYATA (Yang Mungkin akan membuat Anda Menangis Tersedu-sedu)
Minggu lalu saya kembali Jum’atan di Graha CIMB Niaga Jalan Sudirman setelah lama sekali nggak sholat Jum’at di situ… Sehabis meeting dengan salah satu calon investor di lantai 27, saya buru2 turun ke masjid karena takut terlambat..dan bener aja sampai di masjid adzan sudah berkumandang…
Karena terlambat saya jadi tidak tau siapa nama Khotibnya saat itu.. sambil mendengarkan khotbah saya melihat Sang Khotib dari layar lebar yg di pasang di luar ruangan utama masjid.. Khotibnya masih muda, tampan, berjenggot namun penampilannya bersih..dari wajahnya saya melihat aura kecerdasan..tutur katanya lembut namun tegas…dari penampilannya yg menarik tsb..saya jadi penasaran..apa kira2 isi khotbahnya…
Ternyata betul dugaan saya!!!…isi ceramah dan cara menyampaikannya membuat jamaah larut dalam keharuan..banyak yg mengucurkan air mata (termasuk saya)..bahkan ada yg sampai tersedu sedan… Weleh2..sampai segitunya ya..lalu apa sih isi ceramahnya..kok kayaknya amazing bingitzz…
Dengan gaya yg menarik Sang Khotib menceritakan “true story”..seorang anak berumur 10 th namanya Umar..dia anak pengusaha sukses yg kaya raya.. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta..tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal..tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah..wong uangnya berlimpah… Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang..agar anaknya kelak menjadi orang yg sukses mengikuti jejaknya…
Suatu hari isterinya kasih tau kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar.. “Waduuuh saya sibuk ma..kamu aja deh yg datang..” begitu ucap si ayah kpd isterinya..bagi dia acara beginian sangat nggak penting..dibanding urusan bisnis besarnya.. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam..sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya..dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya..sedang anak2 yg lain selalu didampingi ayahnya…
Nah karena diancam isterinya..akhirnya si ayah mau hadir meski agak ogah2an.. Father’s day adalah acara yg dikemas khusus dimana anak2 saling unjuk kemampuan di depan ayah2nya.. Karena ayah si Umar ogah2an maka dia memilih duduk di paling belakang..sementara para ayah yg lain (terutama yg muda2) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak2nya yg akan tampil di panggung…
Satu persatu anak2 menampilkan bakat dan kebolehannya masing2..ada yg menyanyi, menari, membaca puisi, pantomim, ada pula yg pamerkan lukisannya..dll Semua mendapat applause yg gegap gempita dari ayah2 mereka…tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya..
“Miss, bolehkah saya panggil pak Arief..” tanya si Umar kpd gurunya..pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu… ”Oh boleh..” begitu jawab gurunya..dan pak Ariefpun dipanggil ke panggung…
“Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” begitu Umar minta kepada guru ngajinya…”Tentu saja boleh nak..” jawab pak Arief.. “Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yg salah..” lalu si Umar mulai melantunkan QS An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (hapalan).. dengan lantunan irama yg persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram)…
Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yg mendayu-dayu…termasuk ayah si Umar yg duduk dibelakang…”Stop.. kamu telah selesai membaca ayat 1s/d 5 dengan sempurna. Sekarang coba kamu baca ayat 9..” begitu kata pak Arief yg tiba2 memotong bacaan Umar… lalu Umarpun membaca ayat 9…”Stop, coba sekarang baca ayat 21..lalu ayat 33..” setelah usai Umar membacanya… Lalu kata pak Arief:“Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”..si Umarpun membaca ayat ke 40 tsb sampai selesai”…
“Subhanallah…kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak…” begitu teriak pak Arief sambil mengucurkan air matanya…para hadirin yg muslimpun tak kuasa menahan airmatanya… Lalu pak Arief bertanya kepada Umar:”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman2mu unjuk kebolehan yg lain..?” begitu tanya pak Arief penasaran…
Begini pak guru…waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak..bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah SAW:”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim)…
“Pak guru..saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak..sebagai seorang anak yg berbakti kpd kedua orangnya..” Semua orang terkesiap dan tdk bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 th tsb… Ditengah suasana hening tsb..tiba2 terdengan teriakan “Allahu Akbar..!!” dari seseorang yg lari dari belakang menuju ke panggung…
Ternyata dia ayah si Umar..yg dengan ter-gopoh2 langsung menubruk sang anak..bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya.. ”Ampuun nak.. maafkan ayah yg selama ini tidak pernah memperhatikanmu.. Tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama..apalagi mengajarimu mengaji…” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya…” Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia nak…ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akherat kelak…ayah maluuu nak” ujar sang ayah sambil nangis ter-sedu-sedu subhanAllah…
Sampai disini, saya melihat di layar Sang Khotib mengusap air matanya yg mulai jatuh…semua jama’ahpun terpana..dan juga mulai meneteskan airmatanya..termasuk saya..diantara jama’ahpun bahkan ada yg tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya…luar biasaharu…
Entah apa yg ada dibenak jama’ah yg menangis itu..mungkin ada yg merasa berdosa karena menelantarkan anaknya..mungkin merasa bersalah karena lalai mengajarkan agama kpd anaknya.. mungkin menyesal krn tdk mengajari anaknya mengaji..atau merasa berdosa karena malas membaca Al-Qur’an yg hanya tergeletak di rak bukunya..dan semua..dengan alasan sibuk urusan dunia…!!!
Saya sendiri menangis karena merasa lalai dengan urusan akherat..dan lebih sibuk dengan urusan dunia..padahal saya tau kalau kehidupan akherat jauh lebih baik dan kekal dari pada kehidupan dunia yg remeh temeh, sendau gurau dan sangat singkat ini..seperti firman Allah SWT dalam Q.S. Al-An’Amayat 32:”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”
Astagfirullahal ghofururrohim..
Hamba mohon ampunan kepada Allah..
Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang…
Wallahu ‘alam bissawab.. Semoga bermanfaat..khususnya buat saya pribadi…
Salam,
NHA / Nur Hasan Ahmad

Jadi, apa yang salah?

Dari pertama kali ribut gonjang ganjing perpresidenan dilanjut ke drama kenaikan BBM (+semua kebutuhan pokok) diteruskan oleh si cicak vs buaya dengan dibumbui oleh Dolar yang makin seksi serta suhu politik yang membuat partai Golkar dan sekutunya beradu dengan Menkumham plus pendewaan beberapa masyarakat yang sangat mencintai pemimpin ibu kota ini berkata bau dari WC dan Kebon Binatang membuat banyak orang bertanya-tanya dan kebingungan, masih ada kah yang bagus-bagus bisa didengar dari media?

Sudah berbulan-bulan ini orang-orang haus akan GNFI (Good News From Indonesia). Media-media terlalu rakus akan berita-berita menyedihkan dari para pelawak yang duduk manis di atas sana. Ya sebenarnya kalau dicari sih bisa saja dapat berita-berita yang bagus, tapi mata tetap selalu terdistraksi oleh headline-headline bernada negatif di atas.

Sebetulnya bisa juga dicoba untuk tak tertarik berita-berita negatif, jangan pernah meng klik berita negatif. Baca saja berita positif terus, itu juga kalau ada. But, keep looking lah. Makin positif bacaan, otak kita lebih terbiasa untuk mencerna hal-hal yang bagus. Hopefully …

Bandung

Halo-halo Bandung, ibu kota periangan, halo-halo Bandung kota kenang-kenangan, sudah lama beta tidak berjumpa dengan kau, sekarang telah menjadi lautan api, mari bung rebut kembali

Pagi ini tiba-tiba ada yang menyanyikan lagu ini secara spontan. Kebetulan juga baru selesai baca artikel ini. Men, I love Bandung a lot! Bisa dibilang kota kedua yang benar-benar tidak akan pernah bisa bikin move on. 2007-2012 mungkin bukan waktu yang terlalu lama untuk menghabiskan masa-masa “pembelajaran” hidup yang banyak sekali di kota yang selalu memberikan kesan yang sempurna di setiap sudut nya.

Bandung ini memang beda, 18 tahun hidup di Garut untuk menikmati masa anak-anak dan masa remaja memang memberikan kesan yang  khusus tentang memahami kehidupan, namun 5 tahun hidup di Bandung memberikan makna yang terlalu dalam untuk memulai kehidupan baru. Mungkin bisa jadi karena di sini lah saya banyak memulai dan menemukan hal-hal yang baru.

Bandung itu tak jauh beda dengan Jakarta soal macet nya saat ini. Tetapi hal tersebut menjadi perkara kecil dibandingkan dengan suguhan kota ini di setiap destinasi yang ingin kita kunjungi.

Bisa jadi karena persahabatan dan romansa yang dalem banget selama masa-masa kuliah yang membuat kita gagal move on, tetapi Bandung sendiri seperti memberikan kehangatan sehingga perasaan nya menjadi lebih spesial.

Teruntuk anak ku tercinta

Engkau baru lah dikandung empat bulan di rahim ibu mu tapi anugerah mu telah terasa di setiap langkah-langkah ku. Kehadiran mu belum lah terasa secara langsung, namun penantian ini tak pernah berhenti ingin segera bertemu langsung dengan mu, memeluk hangat dengan cinta dan kasih sayang. Wahai anak ku, tak akan mudah ku yakin membuat dirimu menjadi manusia yang berguna bagi orang tua mu, keluarga mu, agama mu, bangsa dan negara ini. Tapi ku yakin engkau akan menjadi yang terbaik, menutupi segala kekurangan orang tua mu ini.

Duhai anak ku, apalah yang bisa ku perbuat untuk menjadikan mu manusia yang selalu baik lahir dan batin? Sedangkan ku tahu tak ada yang sempurna di dunia ini, bahkan diriku sendiri bergelimpangan khilaf dan kesalahan, penuh dengan kekurangan di sana sini. Tetapi akan kah engkau menjadikan kekurangan ku ini menjadi pelajaran di suatu saat nanti? Ku lihat berbagai macam keberhasilan seorang anak yang membanggakan orang tua nya, ku lihat pula banyak anak yang gagal sehingga membuat malu ayah ibu nya. Akan seperti apakah engkau di suatu saat nanti? Tak akan ku biarkan dirimu terjerumus hal-hal yang merusak akhlak dan kepribadian mu. Jadi lah seseorang yang tangguh, jadilah manusia yang pengasih, penyayang, lembut tetapi berjiwa tegas dan berkepribadian kuat.

Duhai anak ku, belajar lah, belajar lah, dan belajar lah sepanjang hidup mu kelak. Akan ku pastikan hidup mu tak akan susah, tetapi engkau harus merasakan bagaimana rasanya berjuang keras penuh keringat agak engkau mengerti cara menjalani kehidupan ini dengan penuh tantangan dan sanggup menyingkirkan segala rintangan. Belajarlah melihat alam, belajarlah mencari teman dan guru, belajarlah ilmu agama agar kelak engkau lah yang memberikan pahala yang berlimpah di saat ku tak ada lagi di dunia ini.

Duhai anak ku, mungkin baru beberapa tahun lagi engkau mengerti tulisan ku ini. Mudah-mudahan di saat engkau mulai mengenal kehidupan, engkau akan menyadari bahwa orang tua mu ini tak pernah berhenti memberikan doa dan harapan ke pundak mu. Diriku mungkin belum mengerti bagai mana cara mengurusmu saat engkau nanti terlahir ke dunia, orang tua mu mungkin belum terbiasa menggendong mu, memandikan mu, mengganti popok mu, memberimu makan, menidurkan mu, dan membuat mu ketawa. Tapi kita yakin engkau lah yang akan memaksa kami belajar untuk menjadi orang tua yang terbaik, untuk memberikan mu pelajaran hidup yang terbaik.